"DwiBanet.Com : berisi Kumpulan Informasi menarik tentang Ape Aje, semoga bermanfaat"
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Oktober 2012

FOTO CANDI BOROBUDUR PERTAMA KALI DITEMUKAN

Candi borobudur terkubur lahar merapi Salah satu pertanyaan yang kini belum terjawab tentang Borobudur adalah bagaimana kondisi sekitar candi ketika dibangun dan mengapa candi itu ditemukan dalam keadaan terkubur. Beberapa ahli mengatakan Borobudur awalnya berdiri dikelilingii rawa kemudian terpendam karena letusan Merapi.

Hal tersebut berdasarkan prasasti Kalkutta bertuliskan ‘Amawa’ berarti lautan susu. Kata itu yang kemudian diartikan sebagai lahar Merapi, kemungkinan Borobudur tertimbun lahar dingin Merapi. Desa-desa sekitar Borobudur, seperti Karanganyar dan Wanurejo terdapat aktivitas warga membuat kerajinan. Selain itu, puncak watu Kendil merupakan tempat ideal untuk memandang panorama Borobudur dari atas. Gempa 27 Mei 2006 lalu tidak berdampak sama sekali pada Borobudur sehingga bangunan candi tersebut masih dapat dikunjungi.

Sejarah ditemukannya candi borobudur
Sekitar tiga ratus tahun lampau, tempat candi ini berada masih berupa hutan belukar yang oleh penduduk sekitarnya disebut Redi Borobudur. Untuk pertama kalinya, nama Borobudur diketahui dari naskah Negarakertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi, disebutkan tentang biara di Budur.

Kemudian pada Naskah Babad Tanah Jawi (1709-1710) ada berita tentang Mas Dana, seorang pemberontak terhadap Raja Paku Buwono I, yang tertangkap di Redi Borobudur dan dijatuhi hukuman mati. Kemudian pada tahun 1758, tercetus berita tentang seorang pangeran dari Yogyakarta, yakni Pangeran Monconagoro, yang berminat melihat arca seorang ksatria yang terkurung dalam sangkar.

Pada tahun 1814, Thomas Stamford Raffles mendapat berita dari bawahannya tentang adanya bukit yang dipenuhi dengan batu-batu berukir. Berdasarkan berita itu Raffles mengutus Cornelius, seorang pengagum seni dan sejarah, untuk membersihkan bukit itu.

Setelah dibersihkan selama dua bulan dengan bantuan 200 orang penduduk, bangunan candi semakin jelas dan pemugaran dilanjutkan pada 1825. Pada 1834, Residen Kedu membersihkan candi lagi, dan tahun 1842 stupa candi ditinjau untuk penelitian lebih lanjut.


























Jika dalam penjelasan di atas ada yang sobat kurang mengerti, silahkan tulis di kolom komentar. Semoga bermanfaat terima kasih.
Sumber : http://www.tahukah-anda.info/2012/10/foto-candi-borobudur-pertama-kali.html#ixzz28cCEEcT1

Jumat, 03 Agustus 2012

Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Pajajaran
Mencari jejak kerajaan Pajajaran memang harus dilakukan melalui cara melingkar, atau mengabungkan dalam bentuk puzel. Secara resmi daerah yang dikonotasikan bekas peninggalan ibu kota Pajajaran (Pakuan) baru ditemukan Scipio seabad kemudian. Selain itu para sejarawan sering menarik benang merah dari naskah-naskah kuno, seperti carita Parahyangan, Naskah Wangsakerta dan Serat Banten.


Upaya lain yang ditemukan dilakukan melalui penulusuran sejarah lisan yang disampaikan turun temurun, seperti cerita pantuan atau keterangan para juru kunci. Namun dari alur ini adakalanya dihubungkan dengan hal-hal yang bersifat mistis atau relijius. Sehingga penemuan sejarah malah menjadi kabur.

Mermang sulit menemukan titik pusat kota pajajaran (pakuan), selain kota Bogor telah padat dihuni penduduk dan aktifitas ekonomi, juga masih kurangnya prioritas terhadap sejarah. Seperti di buatnya daerah menjadi Real Estate di Rancamaya, padahal ketika itu sudah diyakini sebagai situs Pajajaran yang banyak disebut-sebut dalam catatan sejarah.

Masalah yang mungkin menghambat adalah adanya keyakinan yang terkait dengan relijius atau keengganan untuk menguak kebenaran dari kesejarahan Pajajaran. Mungkin ada benarnya Uga Prabu Siliwangi yang mengabarkan kepada para pengikutnya : “Sing waspada! Sabab engké arinyana, bakal nyaram Pajajaran didongéngkeun. Sabab sarieuneun kanyahoan, saenyana arinyana anu jadi gara-gara sagala jadi dangdarat. Buta-buta nu baruta; mingkin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bulé. Arinyana teu nyaraho, jaman manusa dikawasaan ku sato!”.

Didalam Pustaka Nusantara III/1 dan Kretabumi I/2 menyebutkan runtuhnya Pajajaran terjadi pada pada tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka, bertepatan dengan tanggal 8 Mei 1579 M. Naskah tersebut menjelaskan : “Pajajaran sirna ing ekadaÅ›a Å›uklapaksa Wesakamasa sewu limang atus punjul siki ikang Åšakakala”. Sedangkan “Runtagna” Pajajaran didalam naskah “Waruga Jagat” dan naskah “Pancakaki Masalah Karuhun Kabeh” disebutkan : “Pajajaran burak pada tahun jim akhir”.

Sejalan dengan naskah tersebut, didalam serta Banten diceritakan pula tentang keberangkatan pasukan Banten ketika melakukan penyerangan ke Pakuan dengan pupuh Kinanti, terjemaahaannya: “Waktu keberangkatan itu (pasukan Banten) terjadi pada bulan Muharam tepat pada awal bulan hari Ahad tahun Alif inilah tahun Sakanya satu lima kosong satu”.

Banyak para ahli sejarah yang mencari musabab dapat direbutnya Pakuan, sekalipun telah ditinggalkan 12 tahun oleh rajanya namun dapat tetap berdiri kokoh. Namun untuk saat ini kisah yang disusun dalam Serat Banten dianggap benar dan dianggap masuk akal. Hampir dengan cerita “kuda troya”.

Didalam serat banten diterangkan, Pakuan dapat mudah dibobol setelah terjadinya penghianatan yang dilakukan oleh Komandan kawal benteng Pakuan yang merasa sakit hati karena tidak memperoleh kenaikan pangkat. Secara kebetukan Sang Komandan saudara dari Ki Jongjo, seorang kepercayaan Maulana Yusuf. Ketika malam tiba, sang komnadan membuka pintu benteng dari dalam dan mempersilahkan pasukan Banten masuk, sehingga tanpa disadari oleh pasukan Pakuan, pasukan Banten sudah berada ditengah-tengah mereka.
Memang dalam catatan sejarah banyak rangkaian yang menyebabkan runtuhnya Pajajaran. Dari masalah intern di Kadatuan Pajajaran sampai dengan adanya alasan Cirebon, Demak dan Banten untuk mengislamkan Pajajaran. Namun ada beberapa akhli yang mampu menilik lebih jauh, sebenarnya tidak lepas dari adanya infasi perdagangan para Saudagar Islam.

Dari rangkaian peristiwa tersebut berakhirlah jaman Pajajaran (1482 – 1579) yang ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana, singgasana Raja Pajajaran ketika dinobatkan sebagai raja ke Surasowan di Banten lama oleh pasukan Maulana Yusuf. Dengan diboyongnya batu tersebut bertujuan politis agar tidak ada lagi raja pajajaran yang dilantik. Dilain sisi memberikan legitimasi kepada Maulana Yusuf sebagai penerus kekuasaan Pajajaran yang sah, karena Maulana Yusup juga masih dianggap “teureuh” dari puteri Sri Baduga Maharaja.

Palangka Sriman Sriwacana saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surasowan Banten lama. Orang Banten menyebutnya watu gigilang, berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan “sriman”.
Perihal batu Palangka Sriman Sriwacana dikisahkan dalam Carita Parahyangan, sebagai berikut :

Sang Susuktunggal inyana
nu nyieuna palangka Sriman Sriwacana
Sri Baduga Maharajadiraja
Ratu Haji di Pakwan Pajajaran
nu mikadatwan Sri Bima Punta
Narayana Madura Suradipati,
inyana Pakwan Sanghiyang
Sri Ratu Dewata.
terjemahaannya :
Sang Susuktunggal beliau
yang membuat tahta Sriman Sriwacana
(untuk) Sri Baduga Maharaja
ratu penguasa di Pakuan Pajajaran
yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta
Narayana Madura Suradipati,
yaitu istana Sanghiyang
Sri Ratu Dewata.

Istilah “palangka” berarti tempat duduk atau “tahta”. Dalam tradisi Pajajaran digunakan pada upacara penobatan. Di atas batu palangka para calon raja diwastu atau berkati oleh pendeta tertinggi. Letak palangka berada di kabuyutan kerajaan dan tidak di berada dalam istana. Batu palangka terbuat dari batu yang gosok menjadfi halus dan mengkilap. Dalam perjalanan selanjutnya, masyarakat sunda menyebutnya batu pangcalikan atau batu ranjang. Sebagaimana yang ditemukan di makam kuno dekat Situ Sangiang – Cibalarik Sukaraja Tasikmalaya dan di Karang Kamulyan bekas pusat Kerajaan Galuh. Sedangkan batu ranjang ditemukan di Desa Batu Ranjang Cimanuk, Pandeglang (ditengah sawah).

Perkiraan bekas Kadatuan Pajajaran ditemukannya kembali selang satu abad kemudian, oleh ekspedisi Scipio (1 September 1687), dalam bentuk puing yang diselimuti oleh hutan tua. Dalam laporan Gubernur Belanda dijelaskan, bahwa : istana tersebut terutama tempat duduk raja dikerumuni dan dirawat oleh sejumlah besar harimau. Dari sinilah dimungkinkan munculnya mitos, bahwa pasukan atau yentara pajajaran berganti wujud menjadi harimau.

Ketika melakukan penelitian tersebut Scipio diantar Penduduk Kedunghalang dan Parung Angsana sendiri, mereka kemudian diakui sebagai peziarah pertama setelah Pakuan dinyatakan hilang. Tak heran, mereka menduga puing kabuyutan Pajajaran yang mereka temukan sebagai singggasana raja.

Hal yang berkaitan tentang sakralnya singgasana tersebut diceritakan pula oleh Abraham van Riebeeck (1703), dia melihat adanya sajen yang diletakkan di atas piring di kabuyutan tersebut. Sehingga ditafsirkan pula sejak ditemukan kembali oleh Scipio masyarakat merasakan menemukan kembali Pajajaran yang telah hilang.

Kemudian pada tahun 1709, Van Riebeeck melihat adanya ladang baru pada lereng Cipakancilan. Disini menemukan adanya tanda-tanda kehidupan baru di bekas Pakuan. Diperkirakan peladang tersebut akan membuat dangau tempat tinggalnya pada tepi alur Cipakancilan.

Dengan demikian orang belanda telah mengetahui jauh-jauh hari namaPakuan, Pajajaran dan Siliwangi dua abad sebelum nama Pakuan Pajajaran duiketahu lewat pembacaan prasasti batu tulis oleh Friederich pada tahun 1853.

Pakuan bagi sebagaian besar masyarakat Sunda bukan hanya sekedar lokasi kerajaan, melainkan menyimpan berjuta kenangan tentang kejayaan Pajajaran di masa lalu yang lengkap dengan tingginya budaya. Bahkan masih banyak yang menganggap bahwa sebenarnya Kerajaan Pajajaran tidak runtuh, tapi tilem. Namun apapun masalahnya, mungkin ada kata-kata bijak perlu disimak dari Wasiat Prabu Slihwangi. Isinya :

Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu,
najan dia kabéhan ka ngaing pada satia!
Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun,
ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar.
Dia mudu marilih, pikeun hirup ka hareupna,
supaya engké jagana, jembar senang sugih mukti,
bisa ngadegkeun deui Pajajaran!
Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anuanyar,
nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman! Pilih!
Cag Heula ……. Urang sampeur jaga.(***)

Rabu, 25 April 2012

Kota Tertua Di Dunia


Jika anda ingin bertualang kenapa tidak coba mengunjungi kota-kota kuno di dunia. Apalagi jika anda tertarik mengenai budaya yang berbeda dari yang sering anda temui, tentunya tidak salah jika anda mulai mengunjungi dan mengalami hidup di kota paling tua di dunia dan merasakan tempat berkembangnya budaya di beberapa milenium lalu. Dibawah ini adalah 10 tempat yang berhasil dilacak dan dinyatakan sebagai kota tertua yang masih berdiri dan hidup dalam dunia modern. Tertarik? Kita baca sama-sama ya :

Lisbon, Portugal 

Kota yang didirikan di perbukitan rendah di sebelah utara Sungai Tagus, pesona Lisbon ini berkaitan erat dengan masa lalu. Lisbon pertama kali didirikan oleh bangsa Iberia. Setelah berdiri ber abad-abad lamanya, Lisbon sekarang adalah kota paling hidup di Eropa. Istana-istana kuno yang di restorasi, gereja-gereja tua nan indah dan berbagai bangunan Art Nouveau adalah bagian paling indah yang membentuk wajah budaya kota ini. Museum seperti Calouste Gulbenkian Museum, National Coach Museum, dan Carmo Archaeological Museum menyimpan berbagai barang kenangan indah tentang kehidupan masa lalu kota ini. Bairro Alto, pusat kehidupan malam kota ini juga penuh dengan berbagai restorat, bar dan club seru bagi anda. Campo de Santa Clara juga membuka berbagai kesempatan bagi anda untuk membeli berbagai kenangan indah pengingat perjalanan Anda.





 Luxor, Mesir

Luxor, yang dulu dikenal sebagai kota Thebe, adalah kota indah yang dipersembahkan bagi Dewa Amon Ra, dan semenjak turisme dikenal di dunia, kota ini sudah ramai dikunjungi turis, banyak turis di jaman Romawi dan Yunani mengunjungi kota ini. Luxor adalah kota paling populer di Mesir. Kota ini berawal dari monumen-monumen Luxor, Karnak, Hatshepsut dan Ramses III. Tidak aneh jika kota ini sering disebut sebagai musium udara terbuka terbesar di dunia. Kota ini sebenarnya terbagi tiga bagian, Luxor yang berada di sisi timur Sungai Nil, kota Karnak dan Thebe yang berada di sisi barat sungai Nil, berseberangan dengan Luxor, dan sekarang tergabung menjadi satu.





Photobucket
Asyut, Mesir

Kota ini terletak 375 km di selatan Kairo. Kota ini adalah kota terbesar di Mesir Atas dan adalah kota pertama yang didirikan di jaman Firaun. Sekarang kota ini adalah kota paling penting sebagai pusat pertanian dan juga kota tempat universitas terbesar ketiga di Mesir.




Photobucket
Xi’an, China

Dengan sejaran panjang yang terbentang sampai 30 abad lamanya, kota ini adalah salah satu kota paling penting dalam sejarah China. Kota ini adalah salah satu dari Empat Ibukota Kuno Teragung di Cina. Kota ini banyak sekali dinikmati dan memiliki tempat yang sama dalam sejarah dengan kota-kota Athena, Kairo dan Roma. Berbagai relik kuno dan berbagai situs budaya penting menempatkan kota ini sebagai Museum Sejarah Alami. Museum Teracota yang berada di kota ini juga dianggap sebagai “Keajaiban Dunia ke Delapan”. Jika anda ingin mengalami China, kota ini adalah salah satu kota yang harus dituju.




Photobucket
Giza, Mesir 

Napoleon Bonaparte memberikan pidatonya kepada para prajuritnya sebelum pertempuran Giza pada 1798, katanya “Diatas piramid-piramid itu, empat abad lamanya sejarah tidak bergeser.” Orang mungkin tidak percaya bahwa Giza sebenarnya adalah kota mandiri yang terpisah dengan Kairo, tapi karena perkembangan Kairo yang cepat, Giza seakan ditelan oleh Kairo. Di kota ini, Anda akan menemukan Piramid-piramid Giza, dengan Sphinx yang setia menjaga. Dataran Giza akan diubah menjadi Grand Museum of Egypt, yang akan diselesaikan pada 2012.



Photobucket
Konya, Turki 


Kota ini diapit oleh dua laut, Laut Tengah dan Laut Hitam, dengan ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut. Kota yang di dirikan diatas stepa Anatolia ini adalah salah satu kota yang paling menarik di Turki. Salah satu museum paling populer di kota ini adalah Green Mausoleum of Mevlana Celaleddin Rumi, makam penyair Turki terkemuka. Berbagai musium indah menanti kunjungan anda di kota ini, antara lain adalah chaeological Museum, Koyunoglu Museum dan Ethnographical Museum.




Sebagai kota terbesar di Swiss dan sekaligus kita tertua di Eropa, Zurich pertama kali didirikan di zaman Romawi dengan nama Turicum. Jejak masa lalu ini dapat ditemukan di berbagai tempat di Kota Tua Zurich. Jalanan sempit yang dipenuhi dengan kafe, toko barang antik dan butik. Bahnhofstrasse, adalah salah satu jalanan yang dipenuhi toko-toko paling indah di Eropa. Grossmünster dan Fraumünster adalah dua gereja tua yang penuh dengan interior indah. Swiss National Museum atau Kunsthaus, juga adalah salah satu musium paling terkenal di dunia. Anda pasti akan tahu betapa kota ini menawarkan semua hal terbaik dalam kehidupan anda di dunia.




Dengan berbagai bekas arkeologi yang berusia lebih dari 50 abad, Kirkuk adalah kota paling penting bagi orang Kurdi. Kota ini sekaligus menjadi pusat industri minyak Irak. Mungkin memang bukan tujuan yang paling banyak mendapat perhatian turis, tapi Kirkuk berdiri di bekas pusat kebudayaan kuno Asiria. Kota ini pernah menjadi tempat pertempuran tiga Kekaisaran besar: Asiria, Babilonia dan Media, yang saling bergantian mengambil alih kuasa atas kota ini. Di kota ini terdapat makam Nabi Daniel (Kristen) dan Pasar Al Qaysareyah. Qal’at Jarmo dan Yorgan Tepe yang berada di pinggiran kota ini akan memberikan anda pengalaman hidup di masa lalu.




Photobucket
Yerusalem, Israel

Kota suci bagi tiga agama terbesar dunia, Islam, Nasrani, dan Yahudi, kota ini adalah tempat dimana nilai kuno digabungkan dengan berbagai budaya baru yang membawa suasanya metropolis baru. Kota ini terbagi menjadi tiga bagian: Yerusalem Barat, bagian yang paling cepat berkembang dan menjadi pusat perdagangan. Yerusalem Timur, yang menjadi tempat permukiman populasi Arab, dan Kota Tua, dengan pemandangan yang luar biasa indah.



Photobucket
Gaziantep, Turki

Kota yang dulunya dikenal dengan nama Antep yang sekarang menjadi ibukota provisi yang sama dengan namanya, Giazantep ini adalah kota tertua yang masih tegak berdiri. Kota ini memiliki sejarah sejauh zaman orang Het (Hittite). Kota ini terus menerus di tinggali semenjak zaman Paleolithic, dan tumbuh besar bersama dengan kekaisaran Ottoman. Hari ini, Giazantep adalah kota yang ramah, dan seru dengan berbagai masjid, madrasah, penginapan bahkan pemandian yang berasal dari beberapa abad lalu. Rumah rumah tua dari batu selalu memiliki taman dan pohon anggur yang menghiasi, sehingga setiap anda menoleh, anda akan mendapat pemandangan terindah di dunia.

Sumber : Kota Tertua Di Dunia: "

Rabu, 01 Februari 2012

Wong Fei Hung (Faisal Hussein Wong) Adalah Muslim (Ulama)


Wong Fei Hung


Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.
Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.
Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri 
sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin.

sumber :  http://blogs.itb.ac.id/iban/2011/11/15/wong-fei-hung-faisal-hussein-wong-adalah-muslim-ulama/

Senin, 23 Januari 2012

WANGSIT PRABU SILIWANG



Wangsit Prabu Siliwangi


Pun, sapun kula jurungkeunMukakeun turub mandepunNyampeur nu dihandeuleumkeunTeundeun poho nu barétoNu mangkuk di saung bututUkireun dina lalangitTataheun di jero iga!
 Terjemahan bebas Uga Wangsit Siliwangi.
Prabu Siliwangi berpesan pada warga Pajajaran yang ikut mundur pada waktu beliau sebelum menghilang :
 “Perjalanan kita hanya sampai disini hari ini, walaupun kalian semua setia padaku! Tapi aku tidak boleh membawa kalian dalam masalah ini, membuat kalian susah, ikut merasakan miskin dan lapar. Kalian boleh memilih untuk hidup kedepan nanti, agar besok lusa, kalian hidup senang kaya raya dan bisa mendirikan lagi Pajajaran! Bukan Pajajaran saat ini tapi Pajajaran yang baru yang berdiri oleh perjalanan waktu! Pilih! aku tidak akan melarang, sebab untukku, tidak pantas jadi raja yang rakyatnya lapar dan miskin”
Dengarkan! Yang ingin tetap ikut denganku, cepat memisahkan diri ke selatan! 
Yang ingin kembali lagi ke kota yang ditinggalkan, cepat memisahkan diri ke utara!
Yang ingin berbakti kepada raja yang sedang berkuasa, cepat memisahkan diri ke timur! 
Yang tidak ingin ikut siapa-siapa, cepat memisahkan diri ke barat!
Dengarkan! 
Kalian yang di timur harus tahu: Kekuasaan akan turut dengan kalian! dan keturunan kalian nanti yang akan memerintah saudara kalian dan orang lain. Tapi kalian harus ingat, nanti mereka akan memerintah dengan semena-mena. Akan ada pembalasan untuk semua itu. Silahkan pergi!
Kalian yang di sebelah barat ! Carilah oleh kalian Ki Santang! Sebab nanti, keturunan kalian yang akan mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya. Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné. Jangan sampai berlebihan, sebab nanti telaga akan banjir! Silahkan pergi! Ingat! Jangan menoleh kebelakang!
Kalian yang di sebelah utara! Dengarkan! Kota takkan pernah kalian datangi, yang kalian temui hanya padang yang perlu diolah. Keturunan kalian, kebanyakan akan menjadi rakyat biasa. Adapun yang menjadi penguasa tetap tidak mempunyai kekuasaan. Suatu hari nanti akan kedatangan tamu, banyak tamu dari jauh, tapi tamu yang menyusahkan.
Waspadalah!
Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, tapi hanya pada waktu tertentu dan saat diperlukan. Aku akan datang lagi, menolong yang perlu, membantu yang susah, tapi hanya mereka yang bagus perangainya. Apabila aku datang takkan terlihat; apabila aku berbicara takkan terdengar. Memang aku akan datang tapi hanya untuk mereka yang baik hatinya, mereka yang mengerti dan satu tujuan, yang mengerti tentang harum sejati juga mempunyai jalan pikiran yang lurus dan bagus tingkah lakunya. Ketika aku datang, tidak berupa dan bersuara tapi memberi ciri dengan wewangian. 
Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa diteemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong. dan bahkan berlebihan kalau bicara.
Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa.
Dialah Anak Gembala. Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi batu, tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang. Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah. setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.
Dengarkan! yang saat ini memusuhi kita, akan berkuasa hanya untuk sementara waktu. Tanahnya kering padahal di pinggir sungai Cibantaeun dijadikan kandang kerbau kosong. Nah di situlah, sebuah nagara akan pecah, pecah oleh kerbau bule, yang digembalakan oleh orang yang tinggi dan memerintah di pusat kota. semenjak itu, raja-raja dibelenggu. Kerbau bule memegang kendali, dan keturunan kita hanya jadi orang suruhan. Tapi kendali itu tak terasa sebab semuanya serba dipenuhi dan murah serta banyak pilihan.
Semenjak itu, pekerjaan dikuasai monyet. Suatu saat nanti keturunan kita akan ada yang sadar, tapi sadar seperti terbangun dari mimpi. Dari yang hilang dulu semakin banyak yang terbongkar. Tapi banyak yang tertukar sejarahnya, banyak yang dicuri bahkan dijual! Keturunan kita banyak yang tidak tahu, bahwa jaman sudah berganti! Pada saat itu geger di seluruh negara. Pintu dihancurkan oleh mereka para pemimpin, tapi pemimpin yang salah arah!
Yang memerintah bersembunyi, pusat kota kosong, kerbau bule kabur. Negara pecahan diserbu monyet! Keturunan kita enak tertawa, tapi tertawa yang terpotong, sebab ternyata, pasar habis oleh penyakit, sawah habis oleh penyakit, tempat padi habis oleh penyakit, kebun habis oleh penyakit, perempuan hamil oleh penyakit. Semuanya diserbu oleh penyakit. Keturunan kita takut oleh segala yang berbau penyakit. Semua alat digunakan untuk menyembuhkan penyakit sebab sudah semakin parah. Yang mengerjakannya masih bangsa sendiri. Banyak yang mati kelaparan. Semenjak itu keturunan kita banyak yang berharap bisa bercocok tanam sambil sok tahu membuka lahan. mereka tidak sadar bahwa jaman sudah berganti cerita lagi.
Lalu sayup-sayup dari ujung laut utara terdengar gemuruh, burung menetaskan telur. Riuh seluruh bumi! Sementara di sini? Ramai oleh perang, saling menindas antar sesama. Penyakit bermunculan di sana-sini. Lalu keturunan kita mengamuk. Mengamuk tanpa aturan. Banyak yang mati tanpa dosa, jelas-jelas musuh dijadikan teman, yang jelas-jelas teman dijadikan musuh. Mendadak banyak pemimpin dengan caranya sendiri. Yang bingung semakin bingung. Banyak anak kecil sudah menjadi bapa. Yang mengamuk tambah berkuasa, mengamuk tanpa pandang bulu. Yang Putih dihancurkan, yang Hitam diusir. Kepulauan ini semakin kacau, sebab banyak yang mengamuk, tidak beda dengan tawon, hanya karena dirusak sarangnya. seluruh nusa dihancurkan dan dikejar. Tetapi…ada yang menghentikan, yang menghentikan adalah orang sebrang.
Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan penguasa dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata. Karena jelas keturunan penguasa, penguasa baru susah dianiaya! Semenjak itu berganti lagi jaman. Ganti jaman ganti cerita! Kapan? Tidak lama, setelah bulan muncul di siang hari, disusul oleh lewatnya komet yang terang benderang. Di bekas negara kita, berdiri lagi sebuah negara. Negara di dalam negara dan pemimpinnya bukan keturunan Pajajaran.
Lalu akan ada penguasa, tapi penguasa yang mendirikan benteng yang tidak boleh dibuka, yang mendirikan pintu yang tidak boleh ditutup, membuat pancuran ditengah jalan, memelihara elang dipohon beringin. Memang penguasa buta! Bukan buta pemaksa, tetapi buta tidak melihat, segala penyakit dan penderitaan, penjahat juga pencuri menggerogoti rakyat yang sudah susah. Sekalinya ada yang berani mengingatkan, yang diburu bukanlah penderitaan itu semua tetapi orang yang mengingatkannya. Semakin maju semakin banyak penguasa yang buta tuli. memerintah sambil menyembah berhala. Lalu anak-anak muda salah pergaulan, aturan hanya menjadi bahan omongan, karena yang membuatnya bukan orang yang mengerti aturan itu sendiri. Wajar saja bila kolam semuanya mengering, pertanian semuanya puso, bulir padi banyak yang diselewengkan, sebab yang berjanjinya banyak tukang bohong, semua diberangus janji-janji belaka, terlalu banyak orang pintar, tapi pintar kebelinger.
Pada saat itu datang pemuda berjanggut, datangnya memakai baju serba hitam sambil menyanding sarung tua. Membangunkan semua yang salah arah, mengingatkan pada yang lupa, tapi tidak dianggap. Karena pintar kebelinger, maunya menang sendiri. Mereka tidak sadar, langit sudah memerah, asap mengepul dari perapian. Alih-alih dianggap, pemuda berjanggut ditangkap dimasukan kepenjara. Lalu mereka mengacak-ngacak tanah orang lain, beralasan mencari musuh tapi sebenarnya mereka sengaja membuat permusuhan.
Waspadalah!
sebab mereka nanti akan melarang untuk menceritakan Pajajaran. Sebab takut ketahuan, bahwa mereka yang jadi gara-gara selama ini. Penguasa yang buta, semakin hari semakin berkuasa melebihi kerbau bule, mereka tidak sadar jaman manusia sudah dikuasai oleh kelakuan hewan.
Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama, tapi karena sudah kelewatan menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat datang untuk mereka. Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri, kapan waktunya? Nanti, saat munculnya anak gembala! di situ akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara. yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menyerobot dan bertengkar. Dipimpin oleh pemuda gendut! Sebabnya bertengkar? Memperebutkan tanah. Yang sudah punya ingin lebih, yang berhak meminta bagiannya. Hanya yang sadar pada diam, mereka hanya menonton tapi tetap terbawa-bawa.
Yang bertengkar lalu terdiam dan sadar ternyata mereka memperebutkan pepesan kosong, sebab tanah sudah habis oleh mereka yang punya uang. Para penguasa lalu menyusup, yang bertengkar ketakutan, ketakutan kehilangan negara, lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang. Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!
Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati. Dengarkan! jaman akan berganti lagi, tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati.
Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala.
Silahkan pergi, ingat jangan menoleh kebelakang!

UGA WANGSIT PRABU SILIWANGI
Naskah asli Uga Wangsit Siliwangi.Saur Prabu Siliwangi ka balad Pajajaran anu milu mundur dina sateuacana ngahiang : “Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu, najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar. Dia mudu marilih, pikeun hirup ka hareupna, supaya engké jagana, jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui Pajajaran! Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman! Pilih! ngaing moal ngahalang-halang. Sabab pikeun ngaing, hanteu pantes jadi Raja, anu somah sakabéhna, lapar baé jeung balangsak.”
Daréngékeun! Nu dék tetep ngilu jeung ngaing, geura misah ka beulah kidul! Anu hayang balik deui ka dayeuh nu ditinggalkeun, geura misah ka beulah kalér! Anu dék kumawula ka nu keur jaya, geura misah ka beulah wétan! Anu moal milu ka saha-saha, geura misah ka beulah kulon!
Daréngékeun! Dia nu di beulah wétan, masing nyaraho: Kajayaan milu jeung dia! Nya turunan dia nu engkéna bakal maréntah ka dulur jeung ka batur. Tapi masing nyaraho, arinyana bakal kamalinaan. Engkéna bakal aya babalesna. Jig geura narindak!
Dia nu di beulah kulon! Papay ku dia lacak Ki Santang! Sabab engkéna, turunan dia jadi panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang saayunan ka sakabéh nu rancagé di haténa. Engké jaga, mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana; saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké, sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!
Dia nu marisah ka beulah kalér, daréngékeun! Dayeuh ku dia moal kasampak. Nu ka sampak ngan ukur tegal baladaheun. Turunan dia, lolobana bakal jadi somah. Mun aya nu jadi pangkat, tapi moal boga kakawasaan. Arinyana engké jaga, bakal ka seundeuhan batur. Loba batur ti nu anggang, tapi batur anu nyusahkeun. Sing
waspada!
Sakabéh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi, ngan di waktu anu perelu. Ngaing bakal datang deui, nulungan nu barutuh, mantuan anu sarusah, tapi ngan nu hadé laku-lampahna. Mun ngaing datang moal kadeuleu; mun ngaing nyarita moal kadéngé. Mémang ngaing bakal datang. Tapi ngan ka nu rancagé haténa, ka nu weruh di semu anu saéstu, anu ngarti kana wangi anu sajati jeung nu surti lantip pikirna, nu hadé laku lampahna. Mun ngaing datang; teu ngarupa teu nyawara, tapi méré céré ku wawangi. Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.
Engké bakal réa nu kapanggih, sabagian-sabagian. Sabab kaburu dilarang ku nu disebut Raja Panyelang! Aya nu wani ngoréhan terus terus, teu ngahiding ka panglarang; ngoréhanakal réa nu kapanggih, sabagian-sabagian. Sabab kaburu dilarang ku nu disebut Raja Panyelang! Aya nu wani ngoréhan terus terus, teu ngahiding ka panglarang; ngoréhan bari ngalawan, ngalawan sabari seuri. Nyaéta budak angon; imahna di birit leuwi, pantona batu satangtungeun, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang. Ari ngangonna? Lain kebo lain embé, lain méong lain banténg, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun, sabab acan wayah ngalalakonkeun. Engke mun geus wayah jeung mangsana, baris loba nu kabuka jeung raréang ménta dilalakonkeun. Tapi, mudu ngalaman loba lalakon, anggeus nyorang: undur jaman datang jaman, saban jaman mawa lalakon. Lilana saban jaman, sarua jeung waktuna nyukma, ngusumah jeung nitis, laju nitis dipinda sukma.
Daréngékeun! Nu kiwari ngamusuhan urang, jaradi rajana ngan bakal nepi mangsa: tanah bugel sisi Cibantaeun dijieun kandang kebo dongkol. Tah di dinya, sanagara bakal jadi sampalan, sampalan kebo barulé, nu diangon ku jalma jangkung nu tutunjuk di alun-alun. Ti harita, raja-raja dibelenggu. Kebo bulé nyekel bubuntut, turunan urang narik waluku, ngan narikna henteu karasa, sabab murah jaman seubeuh hakan.
Ti dinya, waluku ditumpakan kunyuk; laju turunan urang aya nu lilir, tapi lilirna cara nu kara hudang tina ngimpi. Ti nu laleungit, tambah loba nu manggihna. Tapi loba nu pahili, aya kabawa nu lain mudu diala! Turunan urang loba nu hanteu engeuh, yén jaman ganti lalakon ! Ti dinya gehger sanagara. Panto nutup di buburak ku nu ngaranteur pamuka jalan; tapi jalan nu pasingsal!
Nu tutunjuk nyumput jauh; alun-alun jadi suwung, kebo bulé kalalabur; laju sampalan nu diranjah monyét! Turunan urang ngareunah seuri, tapi seuri teu anggeus, sabab kaburu: warung béak ku monyét, sawah béak ku monyét, leuit béak ku monyét, kebon béak ku monyét, sawah béak ku monyét, cawéné rareuneuh ku monyét. Sagala-gala diranjah ku monyét. Turunan urang sieun ku nu niru-niru monyét. Panarat dicekel ku monyet bari diuk dina bubuntut. Walukuna ditarik ku turunan urang keneh. Loba nu paraeh kalaparan. ti dinya, turunan urang ngarep-ngarep pelak jagong, sabari nyanyahoanan maresék caturangga. Hanteu arengeuh, yén jaman geus ganti deui lalakon.
Laju hawar-hawar, ti tungtung sagara kalér ngaguruh ngagulugur, galudra megarkeun endog. Génjlong saamparan jagat! Ari di urang ? Ramé ku nu mangpring. Pangpring sabuluh-buluh gading. Monyét ngumpul ting rumpuyuk. Laju ngamuk turunan urang; ngamukna teu jeung aturan. loba nu paraéh teu boga dosa. Puguh musuh, dijieun batur; puguh batur disebut musuh. Ngadak-ngadak loba nu pangkat nu maréntah cara nu édan, nu bingung tambah baringung; barudak satepak jaradi bapa. nu ngaramuk tambah rosa; ngamukna teu ngilik bulu. Nu barodas dibuburak, nu harideung disieuh-sieuh. Mani sahéng buana urang, sabab nu ngaramuk, henteu beda tina tawon, dipaléngpéng keuna sayangna. Sanusa dijieun jagal. Tapi, kaburu aya nu nyapih; nu nyapihna urang sabrang.
Laju ngadeg deui raja, asalna jalma biasa. Tapi mémang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulo Dewata. da puguh titisan raja; raja anyar hésé apes ku rogahala! Ti harita, ganti deui jaman. Ganti jaman ganti lakon! Iraha? Hanteu lila, anggeus témbong bulan ti beurang, disusul kaliwatan ku béntang caang ngagenclang. Di urut nagara urang, ngadeg deui karajaan. Karajaan di jeroeun karajaan jeung rajana lain teureuh Pajajaran.
Laju aya deui raja, tapi raja, raja buta nu ngadegkeun lawang teu beunang dibuka, nangtungkeun panto teu beunang ditutup; nyieun pancuran di tengah jalan, miara heulang dina caringin, da raja buta! Lain buta duruwiksa, tapi buta henteu neuleu, buaya eujeung ajag, ucing garong eujeung monyét ngarowotan somah nu susah. Sakalina aya nu wani ngageuing; nu diporog mah lain satona, tapi jelema anu ngélingan. Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala. Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan; da nu ngawalukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan: taraté hépé sawaréh, kembang kapas hapa buahna; buah paré loba nu teu asup kana aseupan……………………….. Da bonganan, nu ngebonna tukang barohong; nu tanina ngan wungkul jangji; nu palinter loba teuing, ngan pinterna kabalinger.
Ti dinya datang budak janggotan. Datangna sajamang hideung bari nyorén kanéron butut, ngageuingkeun nu keur sasar, ngélingan nu keur paroho. Tapi henteu diwararo! Da pinterna kabalinger, hayang meunang sorangan. Arinyana teu areungeuh, langit anggeus semu beureum, haseup ngebul tina pirunan. Boro-boro dék ngawaro, malah budak nu janggotan, ku arinyana ditéwak diasupkeun ka pangbérokan. Laju arinyana ngawut-ngawut dapur batur, majarkeun néangan musuh; padahal arinyana nyiar-nyiar pimusuheun.
Sing waspada! Sabab engké arinyana, bakal nyaram Pajajaran didongéngkeun. Sabab sarieuneun kanyahoan, saenyana arinyana anu jadi gara-gara sagala jadi dangdarat. Buta-buta nu baruta; mingkin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bulé. Arinyana teu nyaraho, jaman manusa dikawasaan ku sato!
Jayana buta-buta, hanteu pati lila; tapi, bongan kacarida teuing nyangsara ka somah anu pada ngarep-ngarep caringin reuntas di alun-alun. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan. Iraha mangsana? Engké, mun geus témbong budak angon! Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna garelut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang loba; nu boga hak marénta bagianana. Ngan nu aréling caricing. Arinyana mah ngalalajoan. Tapi kabarérang.
Nu garelut laju rareureuh; laju kakara arengeuh; kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju naréangan budak angon, nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateup ku handeuleum ditihangan ku hanjuang. Naréanganana budak tumbal. sejana dék marénta tumbal. Tapi, budak angon enggeus euweuh, geus narindak babarengan jeung budak anu janggotan; geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawéné!
Nu kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul. Daréngékeun! Jaman bakal ganti deui. tapi engké, lamun Gunung Gedé anggeus bitu, disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajajagat. Urang Sunda disarambat; urang Sunda ngahampura. Hadé deui sakabéhanana. Sanagara sahiji deui. Nusa Jaya, jaya deui; sabab ngadeg ratu adil; ratu adil nu sajati.
Tapi ratu saha? Ti mana asalna éta ratu? Engké ogé dia nyaraho. Ayeuna mah, siar ku dia éta budak angon!Jig geura narindak! Tapi, ulah ngalieuk ka tukang!
sumber :  http://itempoeti.com/wangsit-prabu-siliwangi/

Selasa, 25 Oktober 2011

Museum Nasional

Museum Nasional dan Thomas Raffles

Monas Tahun 1969
Mungkin banyak yang belum tahu Jakarta memiliki 40 buah gedung museum. Namanya pun beragam sesuai fungsinya. Seperti Museum Taman Prasasti, tempat warga Kristen dimakamkan, termasuk para petinggi VOC dan keluarganya ketika bertugas di Batavia. Ada Museum Komodo, Museum Rekha Artha, Museum Keris, Museum Sejarah Jakarta, dan Museum Adam Malik. Tentu akan sangat panjang bila diuraikan satu persatu. Yang jelas warga Ibu Kota kurang menikmati keberadaan 40 museum itu. Karena sehari-hari lebih banyak "kesepian". Kalaupun ada yang datang, umumnya para turis asing atau anak sekolah yang berkarya wisata.

Di antara 40 museum, Gedung Museum Nasional di Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat telah memperoleh nama internasional karena kumpulan benda sejarahnya sejak masa prasejarah. Museum tertua di Indonesia ini didirikan oleh Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen atau Perkumpulan untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan. Perkumpulan ini dibentuk 1778 oleh JCM Radermacher, anggota Dewan Hindia, dan menantu laki-laki dari gubernur jenderal Reinier de Klerk. Bekas kediaman de Klerk hingga kini masih berdiri dengan megah di Jl Gajah Mada dan telah direhabilitasi pemerintah Belanda. Gedung yang memiliki pekarangan luas ini pernah dijadikan Gedung Arsip Nasional.

nn
Gedung Museum Nasional yang meniru vila gaya Romawi kuno, mudah dikenali keberadaannya. Satu-satunya gedung yang di halaman depannya di pasang patung seekor gajah perunggu, cendera mata Raja Chulalongkorn dari Siam (Thailand) waktu berkunjung ke Batavia (1871). Karenanya ia lebih dikenal dengan sebutan Gedung Gajah. Karena koleksinya banyak terdapat patung (arca) ia juga dinamakan Gedung Arca.

Bagi warga Jakarta dan sekitarnya, keberadaan museum ini juga berfungsi tempat hiburan. Pada 1950-an, ketika tempat hiburan masih langka di Jakarta, di museum ini tiap Ahad pagi hingga sore digelar kesenian Sunda atau Jawa. Pertunjukan yang diselenggarakan RRI Studio Jakarta ini dihadiri pengunjung yang membludak.

Museum ini juga memiliki perpustakaana yang banyak dikenal di mancanegara. Ini berkat dorongan Sir Thomas Raffles, letnan gubernur Inggris (1811-1815). Raffles yang sangat memperhatikan sejarah dan arkeologi Jawa -- patut diacungi jempol dalam ikut mendorong perkembangan Perkumpulan Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia-- adalah pendiri Museum Nasional. ""Hindia Belanda terutama Jawa harus berterima kasih pada Raffles yang memberikan semangat untukkemajuan perkumpulan ini,"" tulis seorang pelancong dari Amsterdam pada awal abad ke-20.

F

Bangsa Belanda walaupun mereka telah menyatakan menduduki seluruh kepulauan Nusantara, hanya mengetahui sedikit daerah pedalaman. Tak heran jika bukan mereka yang menemukan monumen artistik terbesar dari kehidupan Jawa kuno: Candi Borobudur. Raffleslah yang menemukakan candi besar dan monomental itu di hutan rimba dekat Yogyakarta, yang sebelumnya tidak diketahui Belanda.

Mendengar penemuan ini, penguasa Inggris itu bukan saja sangat bahagia bahkan menuju ke sana dengan kereta dari Batavia dalam perjalanan yang sulit kala itu. Raffles dalam bukunya History of Java menceritakan, ratusan relief batu di Borobudur terlihat olehnya sebagai pemandangan dari mitologi Hindu. Walaupun sebenarnya relief-relief tersebut bercerita tentang Budha. Candi Borobudur sekarang ini sebagai tempat suci warga Budha, yang selalu membanjiri candi ini pada saat-saat hari suci mereka. Bahkan, banyak penganut Budha dari berbagai negara juga mendatangi dan mensucikan candi ini.

Raffles, yang saat menaklukkan Batavia (1811) dalam usia 29 tahun, dalam karier yang singkat di Jawa, didampingi istrinya, Olivia Marianne. Wanita ini digambarkan cerdas, mengagumkan, dan cantik. Istrinya ini meninggal di Batavia pada 1814, dan prasastinya masih dapat kita jumpai di Museum Taman Prasasti, Jl Tanah Abang I, Jakarta Pusat.Raffles yang berduka dan merasa kehilangan mengabdikan istrinya ini dalam bentuk tugu di pintu masuk Kebon Raya Bogor, yang masih kita dapati hingga saat ini. Raffles dan juga istrinya sangat memberikan perhatian terhadap koleksi beberapa jenis tanaman di Kebon Raya Bogor.

G

Selama empat setengah tahun bertugas di Nusantara, Raffles lebih banyak tinggal di Istana Buitenzorg (Bogor) yang beriklim sejuk. Hanya bila ada keperluan penting, ia berkereta kuda ke Batavia. Ketika ekspedisinya dari Penang menuju Jawa (Agustus 1811), Raffles menyaksikan pulau Tumasik, pulau kecil yang masih berupa rawa-rawa. Instingnya yang kuat, dia ingin menjadikan pulau ini sebagai bandar penting, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk kota Singapura.

Kembali ke Gedung Museum Nasional yang memiliki koleksi lengkap masa lalu dan benda-benda seni dari seluruh Nusantara, termasuk dari emas murni. Pada 1963, emas dan permata koleksinya telah digasak perampok bernama Kusni Kasdut. Ketika itu, Bung Karno tengah membangun Monas dengan puncaknya dari emas. Ada pemeo kala itu, bila ada yang berani mengambil emas ini, hukumannya penjahat tersebut harus dijatuhkan dari puncak Monas. Bahkan ada yang mengusulkan, para koruptor kelas kakap dilemparkan saja dari puncak Monas. 

Minggu, 23 Oktober 2011

Sejarah Jakarta

METROPOLITAN WELTEVREDEN

1743-1750

PADA tahun 1648, pemerintah kolonian Hindia Belanda memberikan tanah yang kini menjadi pusat kota Jakarta pada Anthonij Paviljoun. Dan kemudian, pada 1657, sebuah benteng kecil yang disebut Noordwijk didirikan di kawasan yang kini letaknya tidak jauh dari Jl. Pintu Air Raya dan pekarangan Masjid Istiqlal. Keberadaan benteng ini dimaksudkan untuk mengantisipasi sisa-sisa tentara Mataram dan patroli tentara Banten yang masih cukup banyak kala itu.


TjidengIntern

Pemilik tanah Paviljoen berikutnya adalah Cornelis Chastelein, seorang anggota Dewan Hindia (1693). Ia membeli banyak budak dari raja-raja Bali untuk membuka persawahan. Chastelein, termasuk orang pertama di Indonesia yang berusaha mengembangkan sebuah perkebunan kopi di tengah-tengah kota Jakarta saat ini. Rumah-rumah persitirahatan kecil, yang terletak di tanah yang kini dipakai oleh Rumahsakit Pusat Angkatan Darat, dinamainya Weltevreden (Benar-benar puas). Nama ini kemudian diberikan kepada hampir seluruh daerah Jakarta Pusat sekarang sampai masa Pendudukan Jepang (1942).

Pada 1733, Justinus Vinck membeli tanah luas Weltevreden dan membuka dua pasar besar, yakni Pasar Senen dan pasar Tanah Abang. Pada tahun 1735, ia menghubungkan kedua pasar tersebut dengan sebuah jalan, yang sekarang disebut Jl. Prapatan dan Jl. Kebon Sirih yang juga merupakan jalur penghubung timur-barat pertama di Jakarta Pusat kini.

E75e8625

Pemilik berikutnya, Gubernur Jenderal Jacob Mossel (1704-1761), membangun rumah mewah di tikungan Ciliwung. Mossel juga menggali Kali Lio untuk memudahkan sekoci kecil mengangkut kebutuhan pasar. Pada 1767, rumah Weltevreden dibeli Gubernur Jenderal van der Parra. Kala itu, sebuah kampung di sekitar pasar telah terbentuk. Namun, tanah itu kemudian dijual lagi pada gubernur jenderal VOC terakhir, van Overstraten. Sejak masa itu, Weltevreden menjadi kedudukan resmi gubernur jenderal dan pemerintahannya. Di samping itu, markas militer akan dibangun pula di kawasan ini. Inilah langkah penting dalam pengembangan kota Jakarta selanjutnya.

80DCA700

Daerah sekitar Istana Weltevreden (di sekeliling Pasar Senen dan Lapangan Banteng sekarang) pada awal abad ke-19 sudah menggantikan kota sebagai pusat militer dan pemerintahan. Karena itu, makin banyaklah orang meninggalkan kota yang mulai tidak sehat itu, akibat tertimbunnya kali dengan lumpur, pendangkalan karena pembuangan kotoran, sampah serta ampas tebu serta oleh pasir Gunung Salak setelah ledakannya pada 1699 serta oleh salah urus, misalnya akibat penggalian Mookervaart (kini Kali Pesing).

Tak lama setelah Overstraten memutuskan untuk membangun markas militer baru, dua belas batalion Prancis tiba dari Pulau Mauritius. Para tentara ini ditempatkan di daerah antara Jl. Dr. Wahidin dan Kali Lio. Sampai beberapa tahun yang lalu, daerah bekas Jl. Siliwangi I-V masih merupakan daerah perumahan personel militer. Dan, sejak abad ke-18 selalu terdapat tangsi-tangsi di sekitar Lapangan Banteng (kini tinggal markas Korps Komando (KKO) Marinir; Brimob dan RSPAD). Sejak saat inilah Lapangan Banteng di sebut Paradeplaats, yakni lapangan untuk mengadakan parade.

Pada awal pemerintahan Daendels (1809), ia telah mulai membangun sebuah istana yang besar dan megah di lapangan banteng dan kini dipakai Departemen Keuangan. Daendels bermaksud menjadikan istana ini sebagai pusat ibukota barunya di Weltevreden. Istana dirancang oleh Kolonel J.C.Schultze. Adapun bahan bangunannya diambil dari benteng lama atau Kasteel Batavia yang mulai dirobohkan pada 1809. Namun, bangunan ini baru dapat diselesaikan pada 1826 dan 1828 oleh Insinyur Tromp atas perintah Pejabat Gubernur Jenderal Du Bus de Ghisignies. Di sebelah utara istana didirikan gedung Hoogeregtshof (Mahkamah Agung).

Waterlooplein

Pada 1828 pula, di tengah lapangan banteng didirikan Monumen Pertempuran Waterloo (Belgia), tempat dimana Napoleon mendapatkan kekalahan secara definitif. Dan karena itu pula, lapangan di sekitarnya mendapat nama Waterlooplein (Lapangan Waterloo). Selama abad ke-19, lapangan Waterloo merupakan pusat kehidupan sosial. Orang-orang Batavia pada sore hari berkumpul dengan menunggang kuda atau kerata untuk saling bertemu.

Waterlooplein1938

Untuk latihan militernya, Daendels mengalokasikannya di lapangan Buffelsveld (lapangan kerbau) yang kini menjadi Lapangan Monumen Nasional. Kala itu, mereka menyebutnya sebagai Champs de Mars. Sesudah masa kuasa sementara Inggris, lapangan itu diberi nama baru lagi (1818), yakni Koningsplein (Lapangan Raja), karena gubernur jenderal mulai tinggal di Istana Merdeka (sekarang).

Tentang Istana Merdeka ini sebetulnya masih relatif lebih muda dibanding Istana Negara yang terletak di kawasan yang sama tetapi menghadap Jl. Veteran. Gedung Istana Negara dibangun untuk J.A. van Braam pada tahun 1796 sebagai rumah peristirahatan luar kota kala itu. Kala itu, kawasan ini merupakan lokasi paling bergengsi di Batavia Baru. Selain itu, di kawasan ini juga terdapat kediaman Pieter Tency (1794).

Gedung ini sempat menjadi Hotel der Nederlanden, pada masa Raffles gedung menjadi Raffles House, kemudian menjadi Hotel Dharma Nirmala, dan kini setelah dibongkar dibangun gedung Bina Graha.

Pada tahun 1820 rumah peristirahatan van Braam ini disewa dan kemudian dibeli (1821) oleh pemerintah kolonial untuk dijadikan tempat kediaman gubernur jenderal bila berurusan di Batavia. Sebab, kediaman resminya adalah Istana Bogor. Rumah van Braam atau Istana Rijswijk (namun resminya disebut Hotel van den Gouverneur-Generaal, untuk menghindari kata Istana), dipilih untuk kepala koloni, karena istana Daendels di Lapangan Banteng belum selesai. Dan, setelah diselesaikan pun gedung itu hanya dipergunakan untuk kantor-kantor pemerintah saja.

Pada abad ke-19 dan selama bagian pertama abad-20, gubernur jenderal kebanyakan tinggal di Istana Bogor yang lebih sejuk. Tetapi, kadang-kadang harus turun ke Batavia, khususnya untuk pertemuan Dewan Hindia, yang pada abad ke-19 dan ke-20 bersidang di Istana Negara setiap hari Rabu. Dan, baru pada abad ke-19, karena Istana Rijswijk dianggap mulai terasa sesak, dibangunlah istana baru pada kaveling yang sama, khususnya untuk berbagai upacara resmi yang dihadiri banyak orang. Istana tambahan ini menghadap ke Lapangan Merdeka.

Di depan istana baru ini dalam suatu upacara yang mengharukan pada tanggal 27 Desember 1949 bendera Belanda diturunkan dan Dwikora Indonesia dinaikkan ke langit biru. Pada hari itu, ratusan ribu orang memenuhi tanah lapangan dan tangga-tangga gedung ini dengan diam mematung. Mata mereka terpaku pada tiang bendera dan tanpa malu-malu meneteskan air mata. Tetapi, ketika Sang Merah-Putih menjulang ke atas dan berkibar, meledaklah kegembiraan mereka dan terdengar teriakan: "Merdeka! Merdeka!" Oleh karena itu diputuskanlah menamai gedung ini Istana Merdeka.

Pengakuan atas Kemerdekaan Indonesia ditandatangani di gedung ini pada tahun 1949 oleh Sultan Hamengkubuwono IX dan wakil Ratu Belanda A.H.J. Lovink. Dan, dengan demikian, berakhirlah Perang Kemerdekaan (1945-1949).

Sementara itu, di seberang Mahkamah Agung, di Jl. Budi Utomo pada 1848 dibangun tempat pertemuan yang kini dipakai Kimia Farma. Tempat pertemuan ini pada 1925 dipindah ke gedung baru yang kini dipakai Bappenas di Taman Suropati. Beberapa meter lebih jauh, di pojokan Jl. Gedung Kesenian dan Jl. Pos berdiri Gedung Kesenian Jakarta. Gedung ini didirikan pada 1821.

Schouwburg_Batavia_1939

Gedung yang pada masa penjajahan Belanda disebut Stadtsschouwburg (teater kota) ini dikenal juga sebagai Gedung Komidi. Sejarah gedung yang berpenampilan mewah ini pernah digunakan untuk Kongres Pemoeda yang pertama (1926). Dan, di gedung ini pula pada 29 Agustus 1945, Presiden RI I Ir. Soekarno meresmikan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan kemudian beberapa kali bersidang di gedung ini pula. Pada masa penjajahan Jepang nama gedung ini diganti menjadi Kiritsu Gekitzyoo, dipakai sebagai markas tentara. Pada tahun 50-an, gedung ini sempat dipakai sebagai ruang kuliah malam Universitas Indonesia. Dan, antara tahun 1968 hingga 1984 digunakan sebagai bioskop dengan nama Bioskop Dana dan kemudian menjadi City Theatre. Dan, setelah dikeluarkannya SK Gubernur KDKI Jakarta No. 24/1984, maka bangunan kuno ini dipugar dan dikembalikan ke fungsi semula sebagai pentas kesenian serta ditetapkan namanya menjadi Gedung Kesenian Jakarta (GKJ).

Di sekitar Lapangan Monumen Nasional, di Jl. Medan Merdeka Barat, terdapat Museum Nasional, kerap lebih dikenal sebagai Museum Gajah. Museum ini didirikan oleh Lembaga Kesenian dan Pengetahuan Batavia (Het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen) yang sangat tersohor dan diduga merupakan lembaga ilmiah tertua di Asia.

Museum ini menyimpan tidak kurang dari 109.342 koleksi yang berasal dari berbagai kurun. Untuk koleksi zaman neolitik dipamerkan di Ruang Koleksi Pra-Sejarah. Koleksi zaman batu muda itu antara lain, kapak batu persegi yang ditemukan di Sunter dan Kebayoran (No. 2380; 2494;4290); sebuah beliung dari batu akik (No. 4180), mangkuk terakota dari India Selatan yang ditemukan di Buni dekat Babelan (abad ke-2 SM; No. 7049); sebuah ujung tombak dari masa perunggu-besi yang ditemukan di Lenteng Agung (No. 4545); dan alat-alat logam lainnya yang antara lain ditemukan di Kelapa Dua, Tanjung Barat, Pasar Minggu dan Jatinegara. Semua benda yang ditemukan pada lokasi yang sekarang menjadi bagian wilayah DKI Jakarta ini membuktikan bahwa wilayah Jakarta saat ini sudah dihuni orang pada zaman neolitikum. Masa ini berlangsung sejak abad ke 15 SM.

Benda tua lainnya yang menjadi koleksi museum ini berasal dari abad ke-5, yakni Prasasti Tugu (No. D 214) dengan pahatan huruf-huruf Palawa yang cukup jelas. Hampir semasa dengan prasasti tersebut adalah dua patung Vishnu yang dipamerkan dalam ruang dekat pintu masuk. Boleh jadi, kedua arca ini merupakan arca tertua jenis itu di seluruh Jawa.

Kedua arca ini ditemukan di Cibuaya, sebelah utara Karawang. Dari tahun-tahun terakhir zaman Hindu Sunda Kalapa (nama pertama untuk Jakarta), terdapat batu Padrao, yang berasal dari abad ke-16. Batu ini dipamerkan di sayap selatan gedung utama. Para pelaut Portugis menancapkannya untuk memperingati perjanjian persahabatan antara Kerajaan Pajajaran dan Portugal pada tahun 1522.

Salah satu bagian yang kerap membuat kita berdegup adalah koleksi perhiasan emas berlian yang dipadukan dengan bebatuan yang terkenal mahal harganya, sisa peninggalan abad ke-5 hingga ke-15 ketika bangsa-bangsa maju di Asia kala itu, terutama India dan Cina melakukan banyak perjalanan perdagangan ke negeri ini. Terdapat pula singgasana emas para raja dan berbagai perabotan milik para bangsawan. Koleksi emas berlian itu disimpan di ruang khusus yang selalu dijaga petugas keamanan.

Penjagaan ini mulai diperketat sejak koleksi Museum ini digasak oleh Kusni-Kasdut serta penggasak lainnya yang antara lain menguapkan dua puluh benda koleksi keramik Tionghoa yang nilainya sangat mahal sekali. Namun kemudian, pada sekitar tahun 1996 sejumlah lukisan berharga tinggi koleksi Museum Nasional ini diboyong ke Singapura untuk dilelang. Dan, hasil lelangnya kemana, sampai saat ini tidak ada catatan untuk hal itu.

592113cb

Memasuki abad ke-20, di Batavia terjadi berbagai perubahan. Dikukuhkannya Undang-Undang Desentralisasi tahun 1903 dan berbagai ordonansi tentang kewenangan lokal dalam pengaturan kota, medorong terjadinya perubahan secara signifikans. Perkembangan kota menjadi demikian pesat, demikian juga pola lingkungan kota, skala ruang-ruang kota dan lain sebagainya yang banyak dipengaruhi oleh hadirnya kereta api, trem, mobil, truk serta jaringan listrik dan telpon. Berbagai prasarana kota dalam skala makro juga mulai digarap. Saluran pengendali banjir atau Banjir Kanal juga sudah mulai dibangun dari Karet-Tanah Abang terus ke laut. Demikian pula rel kereta api yang dimulai dengan jalur tengah dan timur, kemudian ditambah dengan jalur barat melalui Manggarai - Tanah Abang - Duri - Kota.

Kali besar taon 1876

Dalam pembangunan Banjir Kanal, perencanaannya telah dilakukan sejak 1870, tidak lama setelah Batavia dilanda banjir besar dan baru pada selesai pada tahun 1920. Dalam asumsi para perencana kota kala itu, Batavia akan dihuni oleh penduduk sebanyak 600 ribu jiwa. Menteng dan Kuningan disiapkan untuk menjadi daerah elit. Tanah Abang untuk orang Arab dan Melayu. Glodok untuk pecinan. Senen untuk daerah perdagangan umum serta untuk kelompok elitnya di Pasar Baru dan Gambir untuk pusat pemerintahan.

7e03bd4d

Upaya-upaya tersebut, khususnya untuk mengembangkan lingkungan permukiman yang telah teratur dilakukan dengan membeli tanah-tanah partikelir, seperti Menteng, Gondangdia, Kramat Lontar, Jatibaru, Karet dan Bendungan Hilir. Rencana Pengembangan itu ditetapkan tahun 1917-1918. Demikian juga dengan perbaikan kampung yang mulai dilakukan sejak 1925, kemudian terhenti oleh Perang Dunia II dan kemudian diteruskan oleh Pemerintah DKI Jakarta pada 1969 dan terus berlangsung hingga kini.

Untuk pengembangan lingkungan permukiman, Niew Gondangdia dan Menteng adalah contoh praktek tata kota modern. Sebuah kota taman yang mulai sepenuhnya mengadopsi mobil dalam tata kota modern, suatu real estate komersial yang pertama menandai liberalisasi ekonomi dan otonomi pemerintahan kota. Ini terutama sekali berkaitan dengan Batavia yang sejak tahun 1926 mendapatkan status kotamadya. Dan Menteng, yang sebenarnya dulu terdiri dari Niew Gondangdia dan Menteng, merupakan salah satu contoh perancangan kota modern pertama di negeri ini.

1955mentengraya

Menteng dibangun oleh developer swasta NV de Bouwploeg yang dipimpin arsitek PJS Moojen yang tampaknya juga merencanakan tata letak dasar keseluruhan kawasan tersebut. Organisasi ini, dalam semangat ekonomi liberal dan otonomi daerah yang sedang marak pada masa itu, mengelola perencanaan dan pembangunan fisiknya, sementara pemerintah kotamadya hanya melibatkan diri dalam pembebasan lahan dan penyediaan jaringan prasarana.

Batas antara Menteng dan Niew Gondangdia adalah kanal drainase yang diapit oleh sekarang Jalan Sutan Syahrir dan Jalan M. Yamin. Rancangan rinci Menteng dilakukan Kubatz, sementara Niew Gondangdia oleh Moojen sendiri. Yang menjadikan acuan bersama kedua arsitek itu dan yang menyatukan kedua bagian kawasan baru itu adalah Jalan Teuku Umar yang membentuk aksis utara-selatan yang sangat kuat. Ketika berkunjung pada tahun 1931, Berlage, arsitek Belanda yang paling terkenal, memberi komentar: "tampillah suatu keseluruhan menyatu yang menarik".

Dua bangunan yang sangat indah dan penting sampai sekarang menandai ujung utara aksis tersebut: kantor de Bouwploeg itu sendiri, yang sekarang menjadi Masjid Cut Meutia, dan gedung kesenian Nederlans-Indische Kunstkring yang sekarang bermasalah sebagai bekas gedung imigrasi Jakarta Pusat. Jelas sekali pentingnya kedua bangunan bersejarah itu sebagai penentu ciri dan karakter keseluruhan kawasan Menteng sekarang sekalipun. Aksis ini diberi hiasan berupa bundaran berikut air mancur di tengah-tengahnya. Ujung selatannya adalah Taman Suropati yang dilengkapi dengan bangunan yang cukup besar dan mengesankan sehingga sebanding dengan kekuatan aksis itu sendiri, yaitu yang sekarang gedung Bappenas. Sepanjang aksis ini berjejer kavling dan rumah-rumah besar yang memperkuat statusnya.

Pada Gondangdia Baru, Moojen merupa-rupa pertemuan-pertemuan jalan yang tidak selalu perempatan. Ini dicapainya dengan menggariskan jalan-jalan diagonal dan melengkung yang memotong atau menghentikan jalan-jalan pararel pada arah utara-selatan. Hasilnya adalah keragaman pertemuan jalan yang luar biasa - meskipun agak membingungkan - beserta kavling-kavling sudutnya yang rupa-rupa, yang masing-masing mempunyai hadapan berlainan. Taman Lembang merupakan keharusan teknis (sebagai penampung air) yang berhasil digubah menjadi taman lingkungan yang sampai sekarang boleh dibilang paling indah dan fungsional.

Rancangan Kubatz relatif lebih "berdisiplin". Satu bulevard timur-barat (Jalan Imam Bonjol - Diponegoro sekarang) ditambahkan sebagai aksis lagi, dan memotong aksis Teuku Umar di Taman Suropati. Yang juga menonjol pada rancangan Kubatz ini adalah diperkenalkannya ruang-ruang terbuka semi-publik di tengah-tengah blok-blok besar sehingga membentuk lingkungan-lingkungan sekunder yang berbeda. Tipe baru rumah pun muncul: bangunan dua lantai. Umumnya rumah-rumah ini berbentuk bungalow atau vila yang dikelilingi halaman dan memilki teras depan. Rumah-rumah yang besar lantainya berlapis marmer dan jendelnya berkaca warna.

Ciri bungalow berhalaman keliling ini kini mulai rusak, misalnya di sepanjang Jalan Diponegoro, di mana rumah-rumah baru dibangun seperti istana besar yang tidak menyisakan ruang terbuka di samping dari bawah sampai atas.

1962thamrin

Thamrin-Sudirman adalah era Soekarno dengan ciri Hotel Indonesia, bundarannya, patung-patung, Senayan dan Ganefo. Kebayoran Baru yang mulai dibangun pada tahun 1949 sejauh delapan kilometer dari Lapangan Monas adalah tata kota modern dengan alusi oriental yang ditandai dengan empat jalan utama yang menyebar dari satu pusat persis ke empat penjuru. Ini adalah karya tata kota pertama seorang Indonesia, Ir M Soesilo.

Kebayoran Baru mengintegrasikan rumah-rumah besar dengan rumah-rumah kecil di dalam setiap blok: yang besar di luar, di tepi jalan besar, yang lebih kecil di dalam, mengelilingi taman lingkungan.

Sementara itu, di sekitar Lapangan Medan Merdeka juga terjadi pengembangan cukup menonjol, seperti dibangunnya Kantor Telpon (1909); Gedung Perhubungan Laut, dulu Kantor KPM/Koninklijke Paketvaart Maatschappij (1916); Gedung Departemen Pertahanan dan Keamanan, dulu Sekolah Tinggi Hukum (1928); Gedung Pertamina, dulu Kantor BPM/Bataafsche Petroleum Maatschappij dengan menara yang dibangun pada tahun 1938 dan lain sebagainya.

Di tengah areal Lapangan Merdeka tersebut terdapat taman, lapangan olahraga dan beberapa bangunan seperti Stasion Gambir. Salah satu lapangan di sini kemudian dipakai sebagai Pasar Gambir, yang juga dikenal sebagai Jaarmarkt atau Pasar malam yang diselenggarakan setiap tahun. Kegiatan ini sempat menghilang dan kemudian diadakan kembali pada 1968 dengan nama Jakarta Fair, di lokasi yang kurang lebih sama dan sejak 1992 dipindahkan di bekas Bandar Udara Kemayoran.

WilhelminaPark1912

Untuk tempat-tempat rekreasi yang kala itu dipelihara sangat baik antara lain, Wilhelminapark (komplek Masjid Istiqlal); Frombergspark (depan Mabes AD); Burgemeester Bisschopplein (Taman Suropati); sementara untuk wisata lautnya tersedia pantai Zandvoort (Sampur) yang mulai dikembangkan pada pertengahan abad ke-19 dan sebagainya. Karena itu, Niew Batavia, Metropolitan Weltevreden pun secara meyakinkan mengembalikan gelar, "Ratu Timur" yang terkait dengan Oud Batavia. Ini semuanya merupakan godaan besar bagi Jepang untuk merebutnya dan menjadikannya Bintang Selatan pada

WilhelminaPark1912b

Cakrawala Matahari terbit. Malahan, pengunjung-pengunjung dari Inggris, sebagaimana diungkap Willard A. Hanna (Hikayat Jakarta), menganggap Weltevreden cukup baik jika dibandingkan dengan Singapura, yang pada waktu itu dan juga kini, merupakan kota yang patut dipamerkan di khatulistiwa.

Di daerah pemukiman orang-orang Eropa dan Cina, jalan-jalan lebar diaspal dengan baik dan dinaungi pohon-pohon rindang yang secara teratur disapu serta disiram dengan air, sehingga sebagian besar kota itu setiap waktu siap untuk diperiksa kebersihannya. Rumah-rumah yang ada besar dan mewah atau kecil tetapi bersih, semua terletak jauh dari jalanan dengan halaman dan kebun. Lalu lintas kendaraan tidak merupakan masalah; ada beberapa ratus kendaraan bermotor yang akhirnya meningkat hingga beberapa ribu, cukup banyak kereta listrik dan delman yang kemudian punah, dan banyak sekali sepeda, yang kesemuanya tidak pernah menimbulkan kemacetan.

Df413517

Dengan disiplin, kuli-kuli mendorong gerobaknya yang penuh dengan muatan atau memikul barang-barang dengan pikulan bambu, dan secara teratur menepi untuk memberi jalan kepada kendaraan yang lebih penting. Banyak pula orang yang membawa bambu yang diikat menjadi rakit di dalam kanal-kalan atau Kali Ciliwung, sambil berhati-hati agar tidak mengganggu orang yang sedang mandi, mencuci atau buang air. Banyak pejalan kaki membawa payung dari kertas minyak untuk melindungi diri dari terik matahari atau hujan. Di mana-mana terdapat pedagang keliling yang membawa barang jualan, dan menabuh gendang atau seruling, atau gong untuk menarik perhatian.

djkt-pasar

Sangatlah mudah bagi seorang ibu rumah tangga untuk menunggu tukang sayur, tukang daging, tukang ayam, tukang telur, tukang buah-buahan di rumah daripada pergi ke pasar. Malahan juga tukang-tukang untuk memperbaiki segala macam keperluan rumah tangga, seperti ledeng, listrik, sepatu, lewat di depan rumah, bahkan juga pemangkas rambut, tukang jahit, tukang pijat, pedagang barang-barang antik dan pedagang-pedagang kecil lainnya. Pendeknya, Batavia keadaannya aman dan tenang. Walaupun, kemiskinan dan kemelaratan terlihat dengan nyata, tetapi sama sekali tidak menonjol.